facebook pixel

Detail Article

Mau Jual Beli Properti? Ini Lho Beban Pajak yang Harus Anda Tau

Mau Jual Beli Properti? Ini Lho Beban Pajak yang Harus Anda Tanggung

Saat melakukan jual beli properti, Anda pasti tau bahwa terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi demi melindungi hak pembeli dan penjual properti. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah mengurus pembuatan Akta dan juga sertifikat. Tapi, tahukah Anda bahwa terdapat beberapa pajak yang harus dipenuhi sebelum membuat dokumen-dokumen tersebut?

(Baca juga Apa Saja Syarat Jual Beli Apartemen? Ini yang Harus Diperhatikan!)

Apa saja beban pajak yang harus ditanggung oleh pihak penjual maupun pembeli? Olympic Residence Sentul telah merangkumnya untuk Anda. Berikut penjelasannya.

Pajak dalam Jual Beli Properti

1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Dikutip dari Wikipedia, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dipungut atas tanah dan bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari padanya.

Dasar perhitungan pajak ini adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang besarnya ditetapkan oleh pemerintah dan dikeluarkan dalam bentuk Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Batas waktu pembayaran PBB adalah enam bulan setelah SPPT diterbitkan.

Nah, jika Anda adalah pembeli properti, cek terlebih dahulu apakah penjual sudah melunasi PBB-nya. Hal ini harus diperhatikan karena jika ternyata PBB belum terbayarkan, maka Anda – selaku pemilik baru –  harus membayar beban pajak yang seharusnya sudah dilunasi oleh pemilik lama.

2. Pajak Penghasilan (PPh)

PPh adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu Tahun Pajak. Besar PPh adalah 5% dari nilai transaksi. Pihak yang menanggung pajak ini adalah penjual.

3. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Dalam Wikipedia disebutkan, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Berbeda dengan PPh, PPN dikenakan kepada pihak pembeli dan hanya dikenakan jika properti bernilai diatas 36 juta rupiah. Besar PPN adalah 10% dari harga properti yang dibeli.

4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Sama halnya dengan PPN, pajak ini juga dikenakan kepada pihak pembeli properti. Besarnya adalah 5% dari harga beli dikurangi NJOPTKP/NPTKP (Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak).

5. Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)

Pajak ini dikenakan kepada barang yang tergolong mewah. Properti yang dapat digolongkan mewah adalah yang luas bangunannya lebih dari 150 meter persegi. Besarnya adalah 20% dari harga jual. Tapi Anda harus ingat, PPnBM hanya berlaku jika pihak pembeli membeli properti langsung dari developer dan tidak berlaku untuk perorangan.

6. Bea Balik Nama (BBN)

Sebagai pembeli, Anda juga akan dikenakan pajak BBN untuk memproses balik nama sertifikat atas properti yang dibeli. Umumnya, pajak ini diurus oleh PPAT bersamaan dengan AJB. Besar biayanya adalah (1/1000 x NJOP) + Rp 50.000.

7. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan dan biasanya dibayarkan sekaligus saat pengajuan BBN. Besar PNBP yang ditetapkan pemerintah adalah (1/1000 x harga jual rumah) + Rp 50.000.

Itulah beberapa beban pajak saat jual beli properti yang harus Anda tau. Semoga informasi di atas bisa membantu sobat Olympic agar lebih jeli dan cermat dalam melakukan jual beli properti ya!

whatsapp phone sms telegram